Pasar saham Indonesia diprediksi akan bergerak volatil pada hari ini, Kamis, di tengah ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang masih belum mereda. Upaya gencatan senjata antara kedua negara tersebut menjadi perhatian utama para investor di pasar saham.
Menurut analis pasar, ketegangan antara AS dan Iran dapat mempengaruhi pergerakan harga saham di Indonesia. “Ketegangan antara AS dan Iran dapat mempengaruhi harga minyak dan komoditas lainnya, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi pergerakan harga saham di Indonesia,” kata analis pasar saham, Ariston Tjendra.
Pada hari ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka pada level 6.133,62, naik 0,23% dari level sebelumnya. Namun, pergerakan IHSG masih diprediksi akan volatil di tengah ketegangan antara AS dan Iran.
Upaya gencatan senjata antara AS dan Iran telah dimulai sejak beberapa hari yang lalu, setelah serangan udara AS terhadap pangkalan militer Iran di Irak. Serangan tersebut memicu reaksi keras dari Iran, yang kemudian melakukan serangan balasan terhadap pangkalan militer AS di Irak.
Namun, pada hari Selasa, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa AS tidak akan melakukan serangan lebih lanjut terhadap Iran, selama Iran tidak melakukan serangan terhadap AS. Pernyataan tersebut dianggap sebagai upaya untuk meredakan ketegangan antara kedua negara.
Menurut analis geopolitik, upaya gencatan senjata antara AS dan Iran masih belum jelas. “Ketegangan antara AS dan Iran masih belum mereda, dan upaya gencatan senjata masih belum jelas,” kata analis geopolitik, Dino Patti Djalal.
Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak mentah dunia telah meningkat tajam akibat ketegangan antara AS dan Iran. Pada hari ini, harga minyak mentah Brent naik 0,5% menjadi US$69,23 per barel, sementara harga minyak mentah WTI naik 0,4% menjadi US$63,27 per barel.
Harga minyak mentah yang meningkat dapat mempengaruhi pergerakan harga saham di Indonesia, terutama saham-saham yang terkait dengan sektor energi. “Harga minyak mentah yang meningkat dapat mempengaruhi pergerakan harga saham di Indonesia, terutama saham-saham yang terkait dengan sektor energi,” kata analis pasar saham, Reza Priyambada.
Dalam beberapa hari terakhir, saham-saham yang terkait dengan sektor energi telah mengalami penurunan harga. Saham PT Pertamina (Persero) Tbk, misalnya, telah turun 2,5% dalam beberapa hari terakhir. Sementara itu, saham PT Medco Energi Internasional Tbk telah turun 3,1% dalam beberapa hari terakhir.
Namun, beberapa analis pasar masih optimis bahwa pergerakan harga saham di Indonesia akan tetap stabil dalam jangka panjang. “Pergerakan harga saham di Indonesia masih diprediksi akan stabil dalam jangka panjang, karena fundamental ekonomi Indonesia masih kuat,” kata analis pasar saham, Handy Yunianto.
Dalam beberapa bulan terakhir, perekonomian Indonesia telah menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Pada kuartal III-2019, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,02% year-on-year, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Sementara itu, inflasi Indonesia pada Desember 2019 mencapai 2,72% year-on-year, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.
Dalam beberapa hari terakhir, beberapa perusahaan telah mengumumkan rencana ekspansi bisnis mereka. PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk, misalnya, telah mengumumkan rencana ekspansi bisnisnya ke Asia Tenggara. Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk telah mengumumkan rencana ekspansi bisnisnya ke Asia Tenggara dan Timur Tengah.
Rencana ekspansi bisnis tersebut dapat mempengaruhi pergerakan harga saham di Indonesia. “Rencana ekspansi bisnis dapat mempengaruhi pergerakan harga saham di Indonesia, karena dapat meningkatkan kepercayaan investor,” kata analis pasar saham, Fransiscus Welirang.
Dalam beberapa hari terakhir, beberapa analis pasar telah merekomendasikan beberapa saham yang memiliki potensi untuk naik. Saham PT Bank Central Asia Tbk, misalnya, telah direkomendasikan oleh beberapa analis pasar karena memiliki fundamental yang kuat dan prospek bisnis yang cerah. Sementara itu, saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk telah direkomendasikan oleh beberapa analis pasar karena memiliki prospek bisnis yang cerah dan harga yang relatif murah.
Namun, beberapa analis pasar juga telah merekomendasikan beberapa saham yang memiliki potensi untuk turun. Saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, misalnya, telah direkomendasikan untuk dijual oleh beberapa analis pasar karena memiliki fundamental yang lemah dan prospek bisnis yang tidak cerah. Sementara itu, saham PT Adaro Energy Tbk telah direkomendasikan untuk dijual oleh beberapa analis pasar karena memiliki prospek bisnis yang tidak cerah dan harga yang relatif mahal.
Dalam beberapa hari terakhir, beberapa analis pasar telah merekomendasikan beberapa strategi investasi yang dapat digunakan oleh investor. “Investor dapat menggunakan strategi investasi jangka panjang untuk menghindari risiko volatilitas pasar,” kata analis pasar saham, Budi Hartono.
Strategi investasi jangka panjang dapat membantu investor untuk menghindari risiko volatilitas pasar. “Strategi investasi jang